Selama ini ada banyak pengguna jejaring sosial yang merasa terganggu dengan anak-anak muda yang mereka sebut alay. Yaitu anak-anak muda abege (biasanya masih SMP atau SMU) yang juga membuat akun di jejaring sosial tersebut, tapi menggunakan profil, foto, dan status di jejaring sosial tersebut yang disebut alay. Misalnya menggunakan bukan nama asli, tapi nama aneh2 seperti PHaiz0LiKeTuITR1c3 (kemungkinan namanya Paijo, dan dia suka makan nasi), atau DhzyBe4ut1PuLL (kemungkinan namanya Desi, dan dia cantik). Atau memasang biodata seenak udelnya, misalnya pada kolom about me di jejaring sosial itu, mereka tulis tentang pengalaman mereka patah hati, atau tulisan seperti :
akoo org’a . . :
> ndudh
> jaill abiezz
> mniess
> crewetd
> nybelind
> crigiss
> gmpang emosiand
> pesimis
> gmpang ckid atii
> lug dda d boongind, cucah p’cya
> nyntai
> gmpang bad mood
> lirik’ane sangar jare
> moody beud
> kasarr
> gothic gurl
> lug ngmong kdang nykitind beud !!
> bs tw org gy ngmongind w
> simplee .
dengan bahasa unik yang biasa disebut dengan bahasa alay. Dan terakhir mereka memajang foto2 mereka yang sudah diedit.
Nah, sekarang saya akan mencoba menganalisa apakah perbuatan alay itu adalah perbuatan dosa atau tidak? Dan apakah para pembenci alay itu bener atau tidak.
Point pertama :
Kita lihat tempat jejaring sosial tersebut berada, yaitu Internet, dimana semua informasi bisa diakses secara global, dan dimana informasi itu bisa menjadi senjata yang sangat berbahaya kalau dipakai secara sembarangan. Coba anda bayangkan, apabila dari nama asli anda yang dipampang secara jelas di jejaring sosial, diketikkan di Google, dan dengan nama lengkap anda saja, si penjahat mendapatkan identitas anda secara lengkap dari alamat, sampai nomer kartu kredit, kemudian anda coba masukan nama alay di search engine, apakah data detail orang itu akan bisa didapat? Saya kira tidak. Jadi kalau dipikir-pikir, nama alay malah lebih aman daripada nama lengkap anda.
Point kedua :
Teknik manipulasi gambar sekarang sudah sangat maju, kita bisa memanipulasi foto seseorang secara gampang, dengan berbekal sebuah aplikasi saja. Photoshop. Apabila foto anda yang dipajang di jejaring sosial itu dan memajang jelas wajah anda itu kemudian di utak-atik dan dibuat foto skandal, apakah itu tidak mencoreng nama anda sendiri? Bandingkan dengan foto para alay yang sudah diedit sedemikian rupa, sehingga untuk dimanipulasi lebih lanjut akan lebih susah dibanding foto polos yang anda pajang di jejaring sosial itu. Dan lagi pula, sejelek-jeleknya editan mereka, mereka itu ngedit sendiri lho…
Point ketiga :
Saat anda ngomong sama orang bule, dibandingkan dengan saat anda ngomong dengan orang Indonesia, mana yang anda rasa lebih enak? Ngomong sama orang Indonesia tentunya. TAPI, lebih bangga mana, ngomong dengan orang bule atau ngomong sama orang Indonesia? Karena anda hidup di Indonesia yang lebih mementingkan gengsi daripada segalanya, tentu anda akan lebih bangga ngomong dengan orang bule daripada ngomong dengan orang Indonesia. Begitu pula dengan para alay. Karena ngomong dengan bahasa Indonesia biasa dianggap sudah biasa, akan lebih bergengsi andai mereka bisa ngomong dengan bahasa yang berbeda dengan orang kebanyakan.
Selain itu, kita sedang membicarakan jejaring sosial, dimana profil mereka adalah zona pribadi mereka sendiri. Para alay itu bukan bikin karya tulis atau laporan pertanggung jawaban yang bahasanya harus formal sesuai EYD. Mereka bebas menentukan tulisan apa yang bisa mereka masukkan disitu, asal tidak menyinggung SARA dan pornografi sesuai TOS kebanyakan jejaring sosial. Dan kalau anda tanyakan kepada alay-alay tersebut, saya yakin, nilai mata pelajaran bahasa Indonesia mereka ga ada yang dibawah 7.
Kenapa kita tidak memuji mereka yang sudah membuat suatu bahasa dan tulisan baru, yang kalau di luar negeri hanya bisa dilakukan oleh profesor. Sedangkan disini, tulisan dan bahasa baru itu dibuat oleh anak2 SMP dan SMA.
Point keempat :
Ada orang yang memprotes, bahwa fungsi sebenarnya dari jejaring sosial seperti Facebook adalah tempat kumpul temen-temen lama, atau ketemu keluarga yang jauh, sehingga alay tidak layak hidup di Facebook. Yang saya tanyakan adalah, darimana kesimpulan itu berasal??? Kalau kita liat di about-nya Facebook, yaitu :
Company Overview:
Facebook’s mission is to give people the power to share and make the world more open and connected.
Millions of people use Facebook everyday to keep up with friends, upload an unlimited number of photos, share links and videos, and learn more about the people they meet.
Jadi tidak ada fungsi spesifik Facebook untuk mengumpulkan teman2 lama, mantan pacar dan sebagainya. Yang ada adalah, Facebook berfungsi untuk menghubungkan orang, baik dengan teman, maupun orang asing yang baru mereka ketemu. Atau dengan kata lain, Facebook adalah media mengumpulkan dan menghubungkan orang. Orang yang bagaimana? Berbagai macam orang tentunya. Beragam kebudayaan dan adat istiadat. Dan bisa saja, kebudayaan baru timbul didalamnya, contoh nyata adalah kebudayaan alay.
Kesimpulan saya :
1. Setiap orang berhak menggunakan fasilitas Facebook dan berinteraksi didalamnya. Bagaimana cara mereka berinteraksi? Bebas tentunya, asal sesuai dengan TOS jejaring sosial yang berlaku.
2. Saya pikir alay tidak mengganggu, mereka unik, iya. Tapi tidak mengganggu. Yang mengganggu adalah orang yang ngajak temenan, kemudian ngetag kita di barang jualan mereka. Atau nyepam wall kita dengan berbagai macam gift dan quiz yang bener2 mengganggu wall kita.
3. Apabila ternyata anda memang tidak suka dengan alay yang menjadi teman anda, biasanya ada fasilitas menghapus orang tersebut dari daftar teman anda. Dan kalo anda masih juga tidak yakin, anda bisa memblock orang tersebut, sehingga tidak akan lagi muncul di tempat anda.
4. Kerahasiaan data kita adalah hak dan kewajiban kita untuk menjaganya. Jangan karena di jejaring sosial itu, kemudian anda malah mengumbar data pribadi anda, walaupun sekedar nama lengkap. Karena sekali lagi, dari nama lengkap saja, seseorang bisa diketahui data lain-lainnya. Ingat, internet adalah zona yang sangat tidak aman.
Share